Cross Functional dan Self-Organizing – 2 Sifat yang harus ada pada Scrum Team

Dua karakteristik; Swakelola (self-managed) dan Lintas Fungsi (cross functional) perlu dipunyai oleh Scrum Team. Sehingga Scrum Team mampu menghantarkan produk “selesai” (DONE) secara iteratif dan inkremental guna memaksimalkan peluang untuk mendapatkan umpan balik (feedback).

Dalam Scrum Framework, disebutkan bahwa Scrum Team terdiri dari :

  • Product Owner,
  • Development Team,
  • Scrum Master.

mereka bersifat swakelola (self-organizing) dan lintas-fungsi (cross functional). Karakteristik inilah yang membedakan Scrum Team dengan Team biasa.

Dua karakteristik tersebut HARUS dipunyai oleh Scrum Team agar Scrum Team mampu menghantarkan produk “selesai” (DONE) secara iteratif dan inkremental guna memaksimalkan peluang untuk mendapatkan umpan balik (feedback).

Namun pada praktiknya, dua karakteristik tersebut paling sering disalah artikan. 

Artikel ini akan membahas lebih jauh mengenai swakelola dan lintas-fungsi dalam konteks Scrum.

TIM SWAKELOLA (Self-managed team)

Tim yang swakelola memilih cara terbaik dalam mengerjakan pekerjaan mereka, bukan diperintah oleh orang lain di luar tim. Tim memiliki kebebasan dan otoritas untuk memilih sendiri bagaimana mereka akan menyelesaikan suatu pekerjaan, seperti misalnya:

  • Bagaimana mengestimasi suatu task?
  • Praktik teknis atau teknologi apa yang sebaiknya akan digunakan?
  • Tools apa yang digunakan untuk memonitor pekerjaan?
  • Bagaimana pekerjaan didistribusikan selama sprint?
 

Memiliki otonomi menentukan bagaimana dan kapan melakukan tanggung jawab akan pekerjaannya, sendirinya akan membangun rasa kepemilikan (ownership) dan kebanggaan (pride) akan pekerjaan mereka.

TIM LINTAS FUNGSI (Cross functional team)

Tim yang lintas-fungsi memiliki semua keahlian yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa bergantung pada orang lain di luar tim.

Lintas fungsi, berbeda dengan metoda tradisional yang masih bersifat silo.

Pada tim yang silo (fungsional), tim dibedakan berdasarkan fungsinya misalnya tim designer UI/UX, tim System analyst/BA, tim developer/programmer, tim tester/QA, dll. 

Dimana pekerjaan akan di distribusikan dari satu tim ke tim lain setelah suatu tim menyelesaikan bagian pekerjaannya.

Hal ini menyebabkan adanya waiting time yang berimplikasi pada berkurangnya kecepatan penghantaran; Kurangnya fleksibilitas untuk mengadopsi perubahan; dan turunnya kualitas akibat adanya informasi yang hilang pada saat perpindahan antar fungsi.

Semua penjelasan tersebut sesuai dengan yang tercantum dalam panduang Scrum (Scrum Guide). Scrum Guide menyebutkan bahwa Development Team, memiliki karakteristik sebagai berikut:

Mereka swakelola. 

Tidak ada satu orang pun (bahkan Scrum Master) yang memberitahu Development Team bagaimana memanifestasikan Product Backlog menjadi gabungan fungsionalitas yang berpotensi untuk dirilis.

Development Team bersifat lintas-fungsi, mereka memiliki semua keahlian yang diperlukan untuk membuat Increment.

Kemudian, yang dimaksud dengan Swakelola dan Lintas Fungsi pada Development Team adalah:

Development Team swakelola untuk mengambil pekerjaan dari Sprint Backlog pada saat Sprint Planning maupun di sepanjang Sprint.

Setiap hari, Development Team harus memahami bagaimana mereka bekerjasama sebagai tim swakelola untuk mencapai Sprint Goal dan membuat Increment yang diharapkan di akhir Sprint.

Sebelum Sprint Planning berakhir, 

Development Team harus bisa menjelaskan kepada Product Owner dan Scrum Master bagaimana mereka akan bekerja sebagai tim swakelola untuk mencapai Sprint Goal dan membuat Increment yang diharapkan.

Tim yang lintas-fungsi memiliki semua keahlian yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa bergantung pada orang lain di luar tim ini. 

Bentuk tim dalam Scrum memang dirancang untuk mengoptimalkan fleksibilitas, kreativitas dan produktivitas. 

Bentuk Scrum Team ini telah terbukti menjadikan tim semakin efektif dalam mengerjakan semua tipe pekerjaan terutama untuk jenis pekerjaan dalam domain kompleks.

Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang membimbing atau mengencourage agar Scrum Team dapat menjadi swakelola dan Lintas Fungsi?

Sesuai dengan Scrum Guide, disebutkan bahwa itu termasuk bentuk layanan yang harus dilakukan oleh SCRUM MASTER sebagai servant leader (pemimpin yang melayani).

Nah, bagaimana caranya Scrum Master sebagai leader bisa mempengaruhi (influence) agar tim berkembang menjadi self-managed? 

Bagaimana organisasi bisa memfasilitasi dan mendukung Scrum Tim agar dapat lintas fungsi dan swakelola sehingga Scrum Team bisa menghantarkan increment yang bernilai secara berkesinambungan?? 

Mungkin mengikuti Training Scrum atau Training Agile Leadership bisa membantu memberikan insight untuk membantu menjawab hal tersebut.

Demikian artikel kali ini, semoga membantu dan bermanfaat.

Agile Academy Indonesia turut mengorganisir dan memfasilitasi Training Scrum bagi perusahaan di Indonesia secara onsite, sesuai kebutuhan dan availability dari perusahaan. 

Pelatihan Scrum dilakukan oleh trainer berpengalaman selama 2 hari penuh untuk mendeliver silabus sebagaimana tercantum disini , yang tentunya dapat dimodifikasi lagi sesuai dengan kebutuhan dan Goal dari perusahaan. 

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore

Kembangkan Bisnis Anda Bersama Kami

Mari Maksimalkan Praktik Agile Dan Scrum Di Perusahaan Kamu